Program Urban Farming dan Pupuk Organik Cair Berdayakan Warga RW 15 Griyashanta Malang
Malang – Upaya memperkuat ketahanan pangan keluarga di kawasan perkotaan terus digalakkan melalui program Aplikasi Urban Farming dan Pembuatan Pupuk Organik Cair melalui Pemberdayaan Warga RW 15 Griyashanta Malang. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Diena Widyastuti, S.TP., M.Si dan melibatkan tim dosen serta mahasiswa lintas bidang keilmuan. Program ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya harga komoditas pangan, khususnya sayuran seperti cabai dan tomat, yang kerap mengalami fluktuasi. Kondisi tersebut berdampak pada daya beli masyarakat perkotaan. Di sisi lain, alih fungsi lahan pertanian menjadi kawasan permukiman dan industri membuat lahan produktif semakin terbatas, termasuk di wilayah Kota Malang.
Data menunjukkan bahwa lahan sawah tersisa di Kota Malang pada 2022 mencapai sekitar 994 hektare, namun yang masih produktif hanya sekitar 804 hektare. Kondisi ini mendorong perlunya solusi alternatif agar masyarakat tetap dapat memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, meski tinggal di lingkungan dengan lahan terbatas.
Optimalisasi Pekarangan Sempit
RW 15 Perumahan Griyashanta menjadi lokasi sasaran kegiatan. Sekitar 75 persen warganya merupakan ibu rumah tangga yang aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki hobi bercocok tanam, meski selama ini masih sebatas tanaman hias. Potensi ini kemudian dikembangkan melalui pendekatan urban farming, yakni sistem bercocok tanam di lahan sempit menggunakan polybag maupun instalasi hidroponik sederhana. Melalui sosialisasi dan pelatihan, warga diberikan pemahaman tentang teknik budidaya sayuran dan bumbu dapur di pekarangan rumah. Targetnya, minimal 80 persen peserta pelatihan mampu memahami konsep urban farming dan mempraktikkannya dengan benar. Selain itu, dibentuk kader ketahanan pangan keluarga untuk memastikan keberlanjutan program.
“Urban farming menjadi solusi praktis, murah, dan mudah diterapkan di lingkungan perumahan. Selain memperindah halaman, hasil panennya dapat membantu memenuhi kebutuhan sayur dan bumbu dapur sehari-hari,” ujar Ketua Tim Pelaksana, Diena Widyastuti.
Olah Sampah Jadi Pupuk Organik Cair
Selain keterbatasan lahan, permasalahan lain yang dihadapi warga adalah pengelolaan sampah rumah tangga, terutama sampah organik yang kerap langsung dibuang tanpa pemilahan. Melalui program ini, warga dilatih mengolah sisa sayuran, buah, dan makanan menjadi pupuk organik cair (POC) menggunakan komposter sederhana. Langkah ini tidak hanya mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan sementara (TPS), tetapi juga menyediakan pupuk alami untuk mendukung kegiatan urban farming. Targetnya, 80 persen peserta mampu mempraktikkan pembuatan pupuk organik cair dengan tingkat keberhasilan minimal 70 persen. Program ini juga didukung oleh hasil riset tim pengusul sebelumnya, antara lain penelitian tentang pembuatan pupuk organik cair dan pestisida organik, serta penelitian efektivitas pupuk kandang dan arang sekam terhadap produktivitas tanaman sistem urban farming.
Berkelanjutan dan Berdampak
Tahapan kegiatan meliputi koordinasi dengan pengurus RW, sosialisasi, pelatihan teknis, praktik langsung, serta monitoring dan evaluasi. Evaluasi dilakukan untuk memastikan warga mampu menerapkan teknik urban farming dan memproduksi pupuk organik cair secara mandiri. Ke depan, RW 15 Griyashanta diharapkan dapat menjadi percontohan kawasan perumahan produktif yang mandiri pangan dan ramah lingkungan. Dengan optimalisasi pekarangan dan pengelolaan sampah organik, warga tidak hanya mengurangi pengeluaran rumah tangga, tetapi juga turut menjaga kelestarian lingkungan perkotaan.





Comments are closed