Urban Farming Jadi Solusi Kreatif Pemanfaatan Lahan Terbatas di RW 15 Griyashanta
Malang – Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tidak lagi menjadi hambatan untuk tetap produktif dan menjaga ketahanan pangan keluarga. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Urban Farming Sebagai Solusi Kreatif Untuk Pemanfaatan Lahan Terbatas di Perkotaan”, tim dari Institut Pertanian Malang mendorong warga RW 15 Perum Griyashanta, Kecamatan Lowokwaru, untuk mengoptimalkan ruang sempit menjadi lahan pertanian yang produktif dan ramah lingkungan. Kegiatan ini diketuai oleh Dra. Nunuk Hariyani, M.Si dan dilaksanakan pada Agustus hingga Oktober 2024 di RW 15 Perum Griya Shanta, Kelurahan Mojolangu, Kota Malang.
Pertumbuhan penduduk di wilayah perkotaan yang semakin pesat menyebabkan tekanan terhadap ketersediaan lahan, termasuk ruang terbuka hijau. Kondisi ini berdampak pada meningkatnya kebutuhan pangan serta berkurangnya area produktif di lingkungan permukiman. Urban farming atau pertanian perkotaan hadir sebagai solusi inovatif yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan pekarangan, atap rumah, maupun sudut-sudut lahan sempit untuk kegiatan bercocok tanam. Konsep ini tidak hanya membantu penyediaan pangan lokal yang segar dan sehat, tetapi juga berkontribusi dalam mengurangi polusi, memperbaiki kualitas udara, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kegiatan pengabdian diawali dengan penyuluhan yang dilaksanakan di Balai RW 15 dan diikuti oleh perwakilan pengurus RW, pengurus RT, serta ibu-ibu PKK. Dalam sesi tersebut, peserta memperoleh pemahaman mengenai pentingnya urban farming di kawasan padat penduduk, strategi menjaga kelestarian lingkungan perkotaan, serta berbagai model pemanfaatan lahan terbatas secara efektif dan berkelanjutan. Antusiasme peserta terlihat dari diskusi aktif serta ketertarikan untuk menerapkan konsep yang telah dipaparkan.
Tahap selanjutnya adalah pelatihan dan praktik langsung pembuatan sistem hidroponik di salah satu rumah warga. Instalasi hidroponik menggunakan paralon yang telah dilubangi sebagai tempat tanam dengan sistem pasang surut. Air yang telah dicampur nutrisi pupuk cair dialirkan menggunakan pompa secara berulang agar tanaman memperoleh suplai nutrisi yang cukup. Media tanam seperti cocopeat, arang, dan rockwool digunakan sebagai penopang benih. Peserta juga dilatih melakukan perawatan tanaman, pengecekan nutrisi, serta pencegahan hama dan penyakit agar hasil panen optimal.
Urban farming terbukti memberikan manfaat dari berbagai aspek. Dari sisi sosial, kegiatan ini meningkatkan partisipasi warga serta mempererat hubungan antaranggota komunitas. Dari sisi ekonomi, hasil panen dapat membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga dan berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan. Sementara dari sisi ekologi, urban farming berperan dalam konservasi tanah dan air, memperbaiki kualitas udara, menciptakan iklim mikro yang lebih sehat, serta menambah ruang terbuka hijau di tengah padatnya permukiman.
Melalui kegiatan ini, warga RW 15 Griyashanta memperoleh pengetahuan dan keterampilan praktis dalam menerapkan pertanian perkotaan secara mandiri. Program ini diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya kawasan permukiman yang lebih hijau, sehat, produktif, dan mandiri pangan. Kegiatan pengabdian ini sekaligus menjadi wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam memberikan kontribusi langsung bagi masyarakat.





Comments are closed