INSTITUT PERTANIAN MALANG

Competency is Our Strength

Green City Initiative Dorong Urban Farming di RW 15 Griyashanta

Malang – Upaya menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih hijau dan sehat diwujudkan melalui program bertajuk Green City Initiative: Mengembangkan Pertanian Perkotaan untuk Lingkungan Lebih Sehat. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diketuai oleh Yani Quarta Mondiana, S.Si., M.Si dan dilaksanakan di RW 15 Perumahan Griyashanta, Kelurahan Mojolangu, Kota Malang.

Kelurahan Mojolangu merupakan salah satu wilayah strategis di Kota Malang dengan luas sekitar 6,121 km². Wilayah ini berbatasan dengan beberapa kelurahan lain seperti Tunjungsekar, Purwantoro, Tulusrejo, Jatimulyo, Blimbing, dan Tunggulwulung. Di dalamnya terdapat Perumahan Griya Shanta yang telah berdiri sejak 1990 dan berkembang menjadi kawasan hunian padat dengan akses fasilitas umum yang lengkap. Namun, pertumbuhan kawasan permukiman juga berdampak pada berkurangnya ruang terbuka hijau. Kondisi ini turut dirasakan warga RW 15, di mana lahan untuk bercocok tanam sangat terbatas. Padahal, sekitar 75 persen warganya merupakan ibu rumah tangga yang aktif dalam kegiatan sosial dan memiliki minat dalam bercocok tanam.

Solusi Pertanian Perkotaan

Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian menginisiasi program Green City Initiative sebagai solusi berbasis urban farming. Pertanian perkotaan dinilai mampu menyediakan sumber pangan sehat dan segar, sekaligus mengurangi jejak karbon, memperbaiki kualitas udara, serta mempercantik lingkungan permukiman. “Urban farming bukan hanya soal menanam, tetapi juga tentang membangun kesadaran lingkungan dan kemandirian pangan keluarga,” ujar Ketua Pelaksana, Yani Quarta Mondiana. Program ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pertanian perkotaan, memberdayakan warga memanfaatkan lahan sempit menjadi kebun produktif, memperkuat ketahanan pangan keluarga, serta menciptakan ruang hijau yang estetis dan menyehatkan.

Penyuluhan dan Pelatihan Praktis

Kegiatan dilaksanakan dalam dua tahap utama. Tahap pertama berupa penyuluhan tentang konsep dan manfaat urban farming yang digelar di Balai RW 15 Griyashanta pada 10 September 2024. Kegiatan ini diikuti oleh 24 peserta yang terdiri dari pengurus RW dan perwakilan masing-masing RT. Tahap kedua berupa pelatihan praktik pembuatan sistem hidroponik vertikal dan pupuk organik cair. Sistem hidroponik vertikal dipilih karena efisien untuk lahan sempit. Instalasi menggunakan pipa PVC berdiameter 3–4 inci yang disusun vertikal dengan jarak lubang tanam 15–20 cm. Sistem ini dilengkapi pompa air dan aliran nutrisi menggunakan metode Nutrient Film Technique (NFT), sehingga akar tanaman memperoleh suplai air, nutrisi, dan oksigen secara optimal. Selain itu, warga juga dilatih membuat pupuk organik cair dari limbah rumah tangga seperti sisa sayuran, kulit buah, dan ampas teh atau kopi. Proses fermentasi dilakukan selama 14–21 hari menggunakan tambahan molase atau gula merah sebagai bahan aktivator. Pupuk yang dihasilkan kemudian diencerkan sebelum digunakan untuk menyuburkan tanaman hidroponik maupun tanaman pekarangan.

Lingkungan Lebih Hijau dan Produktif

Program Green City Initiative terbukti mampu meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya penghijauan serta pengelolaan limbah rumah tangga. Lahan sempit yang sebelumnya tidak produktif kini mulai dimanfaatkan sebagai kebun sayur mini yang mendukung kebutuhan pangan keluarga. Ke depan, warga RW 15 diharapkan dapat membentuk kelompok tani perkotaan guna menjaga keberlanjutan program. Dukungan dari pemerintah daerah juga diharapkan dapat memperluas dampak kegiatan serupa di wilayah lain. Melalui urban farming, RW 15 Griyashanta menunjukkan bahwa keterbatasan lahan bukanlah penghalang untuk menciptakan lingkungan hijau, sehat, dan produktif di tengah kota.

Tags:

Comments are closed